For professional websites please choose the best web hosting company.
Jurnal / Artikel
Pendampingan Manajemen Usaha terhadap peningkatan kualitas pembinaan pada Usaha Kecil Menengah PDF Print E-mail
Written by asep   
Thursday, 25 July 2013 12:16

Pendampingan Manajemen Usaha terhadap

peningkatan kualitas pembinaan pada Usaha Kecil Menengah

Oleh : Mudjiarto

Universitas Esa Unggul, Jakarta

ABSTRAKSI

Pembinaan dan pendampingan yang dilakukan bertujuan untuk peningkatan secara kualitas pembinaan yang diberikan terhadap Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK) dari Program Kemitraan PT. Jasa Marga periode tahun 20010/2011.

Perlakuan (pembinaan UKM) merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam menumbuh kembangkan usaha kecil dan koperasi dalam bentuk, bantuan modal serta pembinaan manajemen usaha melalui program kemitraan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pembinaan dan pendampingan ini sasarannya adalah petugas/pegawai Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dari BUMN. Diharapkan dari Program tersebut mempunyai outcome kualitas program yang diharapkan didalam pembinaan UKM.

Bebagai kegiatan telah dilaksanakan berkaitan dengan Program Kemitraan dan Bantuan Lingkungan (PKBL). Namun berbagai hambatan dan kepentingan yang ada merupakan permasalahan yang dapat melemahkan tujuan yang ingin dicapai dari unit PKBL. Atas dasar itu pelaksanaan program pendampingan petugas PKBL di lapangan, diajukan berdasarkan analisis permasalahan yang ada serta kondisi wilayah yang aktual, sehingga diharapkan program dapat berjalan lebih berdaya guna serta tepat sasaran dan mempunyai kualitas pelaksanaan yang dapat mencapai sasaran program yang diinginkan.

Untuk mencapai tepat sasaran serta peningkatan kualitas pekerjaan diperlukan pedoman-pedoman, dimana pedoman ini disusun berdasarkan permasalahan-permasalahan yang ada serta pengalaman lembaga dalam membina UKM dan Koperasi selama 8 tahun sejak tahun 2002.

Hasil program pendampingan diharapkan berdampak pada pola pembinaan Manajemen usaha terhadap UKM secara kualitas, yang pada akhirnya terdapat UKM-UKM yang handal dan mandiri melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN).


PROGRAM PENDAMPINGAN

BAGI PETUGAS PKBL ( PROGRAM KEMITRAN) CABANG:

CAWANG – TOMANG - CENGKARENG

TAHUN 2010 - 2011

 

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

2. Legalitas Pelaksanaan Program

3. Analisa Permasalahan

4. Schedul Pelaksanaan Kegiatan

II. EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM

1. Penentuan Pinjaman Program kemitraan

2. Kegiatan Monitoring

3. Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan

4. Pelaksanaan Kegiatan Supervisi

III. USULAN PEDOMAN PROGRAM PENDAMPINGAN

1. Usulan Pedoman Penentuan Pinjaman Kemitraan

2. Usulan Pedoman Kegiatan Pelatihan

3. Usulan Pedoman Kegiatan Supervisi

4. Usulan Pedoman Kegiatan monitoring

IV. PENUTUP

Lampiran-lampiran

I. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Sebagai salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Jasa Marga Cab. CTC diberi tugas untuk melaksanakan pembinaan UKM dilingkungan operasionalnya, hal ini sesuai dengan keputusan Menteri Maneg BUMN, tentang Program Kemitraan dan Bantuan Lingkungan (PKBL). Dalam pelaksanaan program sangat dibutuhkan strategi dan system yang fleksibel agar berjalan efesien dan efektif, hal ini agar sumber dana yang dikeluarkan dapat berdaya guna dan tepat sasaran yang pada akhirnya tujuan program tercapai.

Bebagai kegiatan telah dilaksanakan berkaitan dengan Program Kemitraan dan Bantuan Lingkungan (PKBL). Namun berbagai hambatan dan kepentingan yang ada merupakan permasalahan yang dapat melemahkan tujuan yang ingin dicapai dari unit PKBL. Atas dasar itu pelaksanaan program pendampingan petugas PKBL di lapangan, diajukan berdasarkan analisis permasalahan yang ada serta kondisi wilayah yang aktual, sehingga diharapkan program dapat berjalan lebih berdaya guna serta tepat sasaran dan mempunyai kualitas pelaksanaan yang dapat mencapai sasaran program yang diinginkan

Untuk mencapai tepat sasaran serta peningkatan kualitas pekerjaan diperlukan pedoman-pedoman, dimana pedoman ini disusun berdasarkan permasalahan-permasalahan yang ada serta pengalaman lembaga dalam membina UKM dan Koperasi selama 8 tahun sejak tahun 2002.

2. Legalitas Pelaksanaan Program

Legalitas pelaksanaan Program Pendampingan oleh Pusat Studi Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (PS. KUKM) Universitas Esa Unggul, didasarkan pada Surat Perintah Kerja No:CJ.SPK. 097 tanggal 31 Mei 2010 tentang Pemetaan Program Bina Lingkungan & Pendampingan Kemitraan dari PT. Jasa Marga Cabang: Cawang-Tomang-Cengkareng.

Berdasarkan SPK tersebut, pelaksanaan Program Bina Lingkungan dibagi 3 kegiatan yaitu:

1). Program Pelatihan Bina Lingkungan.

2). Program Kemitraan/Pendampingan Petugas PKBL PT. Jasa Marga Cab. CTC

3). Program Pelatihan dan Supervisi Manajemen Usaha UKM mitra binaan PT Jasa Marga Cab. CTC.

Ke tiga (3) kegiatan diatas saling berkaitan dari program yang satu dengan yang lain sebagai berikut:

a. Program pembinaan Bina Lingkungan (anak jalanan dan Putus sekolah) setelah dibina dan berusaha selama satu tahun diharapkan masuk dalam tahap pembinaan dari program kemitraan.

b. Sedangkan Program Kemitraan/pendampingan petugas PKBL akan meningkatkan secara kualitas program pelatihan dan supevisi serta monitoring.

3. Analisis Permasalahan

Analisis permasalahan pada program kemitraan sebagai berikut:

1) Kualitas pelaksana lapangan program Kemitraan, kalau dilihat pelaksana program, hampir disemua cabang PT. Jasa Marga terfokus pada target yang mengacu pada kuantitas program sebagai berikut:

a. Jumlah penyaluran dan tagihan harus dicapai,

b. Tingkat NPL harus rendah.

c. Secara kualitas, petugas lapangan masih belum memadai

Dengan kondisi tersebut dapat dipastikan kualitas program akan terabaikan, hal ini yang menyebabkan:

· Keragu-raguan petugas lapangan untuk mencari mitra baru yang lebih berkualitas.

· Penyaluran dana terfokus pada sekelompok UKM yang sudah dikenal baik, dengan tingkat pengembalian diperkirakan terjamin. Sehingga ada UKM yang memperoleh pinjaman lebih dari 3 kali pinjaman secara terus menerus.

Hasil Kualilitas pekerjaan pelaksana lapangan, jauh dari harapan penyelesaian tugasnya. Kegiatan program sebatas penyaluran dan penagihan saja, fungsi pendampingan usaha para UKM terabaikan. Sehingga pendekatannya hanya sebatas penagihan dan hubungan emosional bukan pendekatan bisnis.

Dengan kondisi ini dapat dipastikan hasil yang dicapai hanya mengejar target kuantitas serta pencapaian ukuran KPI & NPL .

2) Mekanisme Pemberian Pinjaman, tata cara dan mekanisme pemberian pinjaman walaupun sudah ada pedoman yang diberikan oleh PKBL pusat, namun pada saat pelaksanaan di cabang banyak yang tidak mengikuti prosedur yang ada. Disamping itu beberapa kreteria kelayakan usaha yang ada, masih terdapat kekurangan yang perlu diperbaiki dan ditambah.

Akibat dari kelemahan mekanisme pemberian pinjaman adalah,

a. Ketakutan dalam mencari UKM yang baru dan potensial untuk berkembang, sehingga pertambahan mitra baru yang potensial sangat rendah.

b. Pemberian pinjaman tidak berdasarkan kebutuhan usaha yang ada

(Contoh, kebutuhan usaha Rp. 30 juta diberikan Rp. 10 juta)

c. Penyaluran pinjaman terfokus pada wilayah tertentu.

d. Terfokus pada target kuantitas dan rasa aman dalam penyaluran dana.

3) Pola Pembinaan UKM tidak terintegrasi,

Pola pembinaan mitra UKM & Koperasi mulai dilaksanakan pada saat mitra memperoleh pinjaman dana sampai dengan perlunasan pinjaman, sebagai berikut:

a. Pemberian Pinjaman

b. Pelatihan Manajemen Usaha

c. Supervisi

d. Monitoring

e. Pameran-pameran untuk UKM yang memproduksi barang-barang real

Ada yang terputus dalam pola pembinaan yang dilakukan diantaranya:

· Pemberian pinjaman tidak dikaitkan dengan program pelatihan, sehingga peserta pelatihan banyak yang diwakilkan.

· Supervisi yang dilakukan oleh pihak ke 3 (Perguruan Tinggi), tidak sebagai pedoman dan acuan dalam monitoring yang dilakukan

4. Scedule Pelaksanaan Kegiatan

Berdasarkan permasalahan yang ada serta target yang ditetapkan, maka dibuat schedule pelaksanaan kegiatan pendampingan petugas lapangan PKBL PT. Jasa Marga Cab. CTC sebagai berikut:

Materi Kegiatan:

1). Pembuatan Konsep Pedoman Pendampingan

a. Kolekting data

b. Tabulasi data

c. Evaluasi data

d. Konsep pedoman Pendampingan

2). Implementasi dan uji coba konsep Pedoman pendampingan

a. Penentuan kelayakan pemberian pinjaman

b. Pelaksanaan kegiatan pelatihan

c. Pelaksanaan Supervisi

d. Pelaksanaan Monitoringl

3). Penetapan konsep menjadi pedoman pelaksanaan kegiatan program kemitraan

a. Rapat Kordinasi Pelaksanaan program Kemitraan

b. Pedoman Kegiatan Program kemitraan di berlakukan dan dilaksanakan

Untuk Lebih jelas dan rinci dalam mobilisasi pelaksanaan kegiatan, maka dibuat Time Schedule pelaksanaan kegiatan sebagai berikut:

 

Jadwal Kegiatan Program Pendampingan Petugas PKBL PT. Jasa Marga

 

II. USULAN PEDOMAN PROGRAM PENDAMPINGAN

1. Usulan Pedoman pola pembinaan kemitraan

Prinsip integrasi pembinaan harus dilakukan, dimulai dari pemberian pinjaman sampai dengan monitoring dan pameran harus terstruktur dan terintegrasi sebagai berikut:

Proses 1:

Dalam program pendampingan. Proses 1, rekruitmen dan seleksi calon mitra binaan melalui keterlibatan petugas PT Jasa Marga dan Lembaga Perguruan Tinggi kegiatan yang dirancang sebagai berikut:

1) Rekruitmen dan seleksi dengan menggunakan pedoman yang telah disusun.

2) Penyaluran pinjaman sesuai dengan hasil seleksi, .dilakukan pada saat pelatihan Manajemen Bisnis.

3) Melakukan regrestrasi pelatihan Manajemen Bisnis

Proses 2:

Pelaksanaan pembinaan proses ke 2, masih dilakukan oleh PT. Jasa Marga dan Perguruan Tinggi dengan kegiatan sebagai berikut:

1). Paling lama 2 minggu setelah proses 1, pelatihan Manajemen Bisnis bagi mitra baru diselenggarakan.

2). Satu bulan setelah pelatihan, maka diadakan supervisi, dengan melakukan kunjungan di tempat mitra berusaha yang dilakukan oleh petugas PT Jasa Marga dan Lembaga P. Tinggi.

Proses 3:

Pelaksanaan proses ke 3, yaitu monitoring dan seleksi untuk pameran. Dilakukan oleh petugas PT. Jasa Marga, dimana pekerjaan monitoring adalah kelanjutan dari pekerjaan supervisi yaitu:

1). Monitoring & evaluasi

2). Seleksi untuk pameran.

Dengan demikian pelaksanaan program pembinaan kemitraan terdapat adanya kesinambungan kegiatan yang ditunjukkan dalam bagan berikut ini:

 

1). Penilaian Kelayakan Pemberian Pinjaman

Ada lima (5) variabel dalam kreteria penilaian kelayakan pemberian pinjaman. Total bobot 5 variabel sebesar 100%, dimana masing-masing variabel mempunyai bobot persentasi (%) yang berbeda. Serta dari masing-masing variabel mempunyai 8 indikator yang dinilai berdasarkan skala likert (nilai bobot terbesar 3) sebagai berikut: (Lihat tabel lembar kelayakan usaha)

Variabel 1 bobot 10% yaitu:

Penilaian Legalitas dan Perilaku, terdiri 8 indikator sebagai berikut:

(1). Tempat tinggal.

· Sewa/kontrak: Nilai 1.

· Milik keluarga: Nilai 2.

· Milik sendiri: Nilai 3.

(2). Kepemilikan Usaha

· Kerjasama dengan orang lain: Nilai 1

· Kerjasama dengan keluarga: Nilai 2

· Milik sendiri: Nilai 3

(3). Ada ijin usaha

· Tidak ada: Nilai 1

· Tidak lengkap: Nilai 2

· Lengkap: Nilai 3

(4). Tempat lokasi usaha

· Sewa/kontrak: Nilai 1.

· Milik keluarga: Nilai 2.

· Milik sendiri: Nilai 3.

(5), Lamanya Usaha

· Kurang dari 1 tahun: Nilai 1.

· 1 Th s/d 5 Th: Nilai 2.

· 5 tahun keatas: Nilai 3.

(6). Keterbukaan & Kejujuran

· Tidak ada : Nilai 1.

· Cukup ada : Nilai 2.

· Sangat ada: Nilai 3.

(7).Jaminan Pinjaman Modal Usaha

· Tidak ada : Nilai 1.

· Cukup ada : Nilai 2.

· Sangat ada: Nilai 3.

(8). Mempunyai misi dan target usaha

· Rendah : Nilai 1.

· Cukup : Nilai 2.

· Sangat tinggi: Nilai 3.

Variabel 2 bobot 15 % yaitu:

Penilaian Produksi & Barang dagangan, terdiri 8 indikator sebagai berikut:

(1). Merancang & menentukan model produk/brg dagangan.

· Tidak ada: Nilai 1.

· Kadang-kadang: Nilai 2.

· Menentukan sendiri: Nilai 3.

(2). Memilih bhn baku/brg dagangan sendiri

· Tidak sendiri: Nilai 1

· Kadang-kadang: Nilai 2

· Memilih sendiri: Nilai 3

(3). Ada target produksi/penjualan

· Tidak ada: Nilai 1

· Kadang-kadang ada: Nilai 2

· Ada target yg direncanakan: Nilai 3

(4). Jumlah persentasi (%) keorsinilan produk/brg

· 51% sd 100% niru: Nilai 1.

· 10% sd 50% niru : Nilai 2.

· 0% sd 9% niru : Nilai 3.

(5). Tata Letak mesin & brg dagangan

· Tidak rapih: Nilai 1.

· Cukup rapih: Nilai 2.

· Sangat rapih: Nilai 3.

(6). Menentukan jumlah persediaan

· Tidak ada : Nilai 1.

· Kadang-kadang : Nilai 2.

· Menentukan persediaan: Nilai 3.

(7). Adanya Quality control produk/brg dagangan

· Tidak ada : Nilai 1.

· Kadang-kadang ada : Nilai 2.

· Sangat ada: Nilai 3.

(8). Adanya limbah produk/brg dagangan yg mengganggu masyarakat

· Ada limbah : Nilai 1.

· Kadang-kadang ada : Nilai 2.

· Tidak ada: Nilai 3.

Variabel 3 bobot 25 % yaitu:

Penilaian Pemasaran, terdiri 8 indikator sebagai berikut:

(1). Tempat lokasi usaha.

· Sangat jauh dari rumah tinggal: Nilai 1.

· Lumayan jauh dari rumah tinggal: Nilai 2.

· Dekat dengan rumah tinggal: Nilai 3.

(2). Ada perkiraan pasar yang tercatat

· Tidak sendiri: Nilai 1

· Kadang-kadang: Nilai 2

· Memilih sendiri: Nilai 3

(3). Ada pelanggan tetap & tercatat

· Tidak ada: Nilai 1

· Kadang-kadang Nilai 2

· Ada & tercatat: Nilai 3

(4). Penjualan rata-2/bln (3 bulan terakhir Rp...)

· 1 sd 9,9 juta: Nilai 1.

· 10 sd 49,9 juta : Nilai 2.

· 50 juta keatas : Nilai 3.

(5). Lokasi usaha strategis/ramai

· Tidak strategis/ramai: Nilai 1.

· Cukup strategis/ramai: Nilai 2.

· Sangat strategis/ramai: Nilai 3.

(6). Penentuan harga jual

· Yang menentukan pembeli : Nilai 1.

· Yang menentukan pasar : Nilai 2.

· Yang menentukan sendiri: Nilai 3.

(7). Ada jaringan pemasaran yang dibuat

· Tidak ada : Nilai 1.

· Kadang-kadang ada : Nilai 2.

· Sangat ada: Nilai 3.

(8). Ada alat transportasi penjualan yang dimiliki

· Tidak ada : Nilai 1.

· Ada sewa/pinjam : Nilai 2.

· Ada milik sendiri: Nilai 3.

Variabel 3 bobot 25 % yaitu:

Penilaian Pemasaran, terdiri 8 indikator sebagai berikut:

(1). Tempat lokasi usaha.

· Sangat jauh dari rumah tinggal: Nilai 1.

· Lumayan jauh dari rumah tinggal: Nilai 2.

· Dekat dengan rumah tinggal: Nilai 3.

(2). Ada perkiraan pasar yang tercatat

· Tidak ada: Nilai 1

· Kadang-kadang: Nilai 2

· Ada & tercatat: Nilai 3

(3). Ada pelanggan tetap & tercatat

· Tidak ada: Nilai 1

· Kadang-kadang Nilai 2

· Ada & tercatat: Nilai 3

(4). Penjualan rata-2/bln (3 bulan terakhir Rp...)

· 1 sd 9,9 juta: Nilai 1.

· 10 sd 49,9 juta : Nilai 2.

· 50 juta keatas : Nilai 3.

(5). Lokasi usaha strategis/ramai

· Tidak strategis/ramai: Nilai 1.

· Cukup strategis/ramai: Nilai 2.

· Sangat strategis/ramai: Nilai 3.

(6). Penentuan harga jual

· Yang menentukan pembeli : Nilai 1.

· Yang menentukan pasar : Nilai 2.

· Yang menentukan sendiri: Nilai 3.

(7). Ada jaringan pemasaran yang dibuat

· Tidak ada : Nilai 1.

· Kadang-kadang ada : Nilai 2.

· Sangat ada: Nilai 3.

(8). Ada alat transportasi penjualan yang dimiliki

· Tidak ada : Nilai 1.

· Ada sewa/pinjam : Nilai 2.

· Ada milik sendiri: Nilai 3.

Variabel 4 bobot 25 % yaitu:

Penilaian Administrasi Keuangan, terdiri 8 indikator sebagai berikut:

(1). Pencatatan akuntansi sampai dengan ?.

· Buku harian: Nilai 1.

· Buka besar: Nilai 2.

· Laporan L/R & Neraca: Nilai 3.

(2). Ada Pencatatan arus kas & realisasinya

· Tidak ada: Nilai 1

· Kadang-kadang dicatat: Nilai 2

· Ada & dicatat : Nilai 3

(3). Keuntungan yang diperoleh (3 bln terakhir)

· Hanya BEP: Nilai 1

· 1% sd 15% dari sales Nilai 2

· 15% keatas dari sales : Nilai 3

(4). % kewajiban cicilan/bulan dari hasil bersih

· 50% sd 100%: Nilai 1.

· 25% sd 49% : Nilai 2.

· 10% sd 24% : Nilai 3.

(5). Ada penghasilan diluar penghasilan utama:

· Tidak ada: Nilai 1.

· Ada (Penghasilan 50% sd 100% dari kewajiban hutang): Nilai 2.

· Ada (penghasilan 100% keatas dari kewajiban hutang): Nilai 3.

(6). Ada harta/aset yang segera dapat dijual

· Tidak ada : Nilai 1.

· Milik keluarga: Nilai 2.

· Milik sendiri: Nilai 3.

(7). Ada pegawai yang mencatat adm keuangan

· Tidak ada : Nilai 1.

· Kadang-kadang ada : Nilai 2.

· Ada: Nilai 3.

(8). Pencatatan keuangan dibuat kontinyu

· Tidak dibuat : Nilai 1.

· Dibuat tidak kontinyu : Nilai 2.

· Dibuat & kontinyu: Nilai 3.

Variabel 5 bobot 25 % yaitu:

Penilaian Pengelolaan SDM, terdiri 8 indikator sebagai berikut:

(1). Ada tenaga kerja yang membantu.

· 0 sd 1 orang: Nilai 1.

· 2 sd 9 orang: Nilai 2.

· 10 orang lebih: Nilai 3.

(2). Ada upah/gaji yang ditetapkan

· Borongan: Nilai 1

· Mingguan/bulanan: Nilai 2

· Gaji tetap: Nilai 3

(3). Ada struktur organisasi & pembagian tugas

· Tidak ada: Nilai 1

· Ada & tidak konsisten Nilai 2

· Ada & konsisten : Nilai 3

(4). Ada tunjangan kesehatan pekerja

· Tidak ada : Nilai 1

· Ada tidak pasti Nilai 2

· Ada dan pasti

(5). Ada bonus yang diumumkan & pasti:

· Tidak ada: Nilai 1.

· Ada tapi tidak pasti: Nilai 2.

· Ada dan pasti: Nilai 3.

(6). Ada uang lembur ditetapkan

· Tidak ada : Nilai 1.

· Ada & tidak ditetapkan: Nilai 2.

· Ada & ditetapkan: Nilai 3.

(7). Ada Hak cuti yang diberlakukan

· Tidak ada : Nilai 1.

· Ada dan tidak ditetapkan : Nilai 2.

· Ada dan ditetapkan: Nilai 3.

(8). Sering terjadi pergantian pekerja

· Sering : Nilai 1.

· Kadang-kadang : Nilai 2.

· Jarang: Nilai 3.

2. Usulan Pedoman Kegiatan Pelatihan

Usulan kegiatan pelatihan manajemen bisnis idealnya diperuntukkan bagi peserta program yang baru mendapat pinjaman, dengan demikian pelatihan ini diprogramkan untuk mitra binaan yang memperoleh dana segar untuk pengembangan usaha.

Dengan demikian materi pelatihan dirancang dan di usulkan untuk mempertahankan etika bisnis, perbaikan pencatatan usaha serta pengembangan usaha. Materi yang disampaikan dengan waktu 20 jam untuk 2 malam 3 hari. Sebagai berikut:

1). Materi Pelatihan

(1). Materi Etika Bisnis ( 3 Jam/sessi)

Materi ini disusun agar peserta latihan dapat memahami pentingnya etika bisnis dalam menjalankan usaha. Karena etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan bisnis. Bagaimana etika dipertahankan untuk rekanan bisnis, janji-jani bisnis, serta mempertahankan kepercayaan bisnis melalui etika-etika yang ada.

(2). Ice Breaking & Outbond (4 jam/sessi)

Materi ini dirancang dan diusulkan untuk difokuskan pada jiwa kepemimpinan bisnis. Kita ketahui bahwa peserta pelatihan adalah UKM-UKM yang menjadi pemimpin bisnis di usahanya. Bagaimana pemimpin bisnis menghadapi permasalahan-permasalahan dan harus mengambil keputusan bisnis yang berkualitas. Materi ini disampaikan melalui permainan-permainan yang dirancang untuk pengembangan diri dengan satuan acara pelatihan sebagai berikut:

· Team Building

· Effective leadership

· Personality Development

(3). Pembukuan Praktis/Akuntansi untuk UKM ( 4 jam/sessi)

Materi ini dirancang, agar peserta pelatihan memahami arti pentingnya akuntansi dan pembukuan praktis, karena akuntansi/pembukuan praktis yang diranncang ini dapat sebagai dasar pengelolaan usaha yang lebih baik serta dapat digunakan sebagai dasar pula dalam pengambilan keputusan bisnis.

(4). Teknik dan Strategi Pemasaran Produk UKM (3 jam/sessi)

Materi ini disusun agar peserta pelatihan dapat memahami pentingnya teknik dan strategi pemasaran , karena teknik dan strategi pemasaran adalah kegiatan penting yang akan dijadikan tuntunan dalam pengambilan keputusan dalam memecahkan persoalan-persoalan pemasaran yang dihadapi.

(5). Rencana Bisnis & Simulasi (4 jam/sessi)

Materi ini disampaikan agar peserta pelatihan memahami langkah-langkah yang harus diambil bila melakukan pengembangan usaha. Berbagai aspek yang harus dinilai untuk menentukan layak atau tidaknya suatu keputusan investasi yang akan dijalankan disampaikan dalam pelatihan ini. Setelah materi dijelaskan maka peserta diajak melakukan simulasi bisnis melalui rencana bisnis dengan menggunakan perangkat computer, baik dengan hardware maupun softwarenya diajarkan.

Materi pelatihan diberikan selama 3 hari 2 malam dengan 20 (sesi) dapat dirinci sebagai berikut:

(1) Motivasi & Etika Bisnis : 2,5 sesi

(2) Ice breaking & Outbound : 3,5 sesi

(3) Pencatatan Akuntansi UKM : 3.5 sesi

(4) Strategi PemasaranUKM : 2,5 sesi

(5) Rencana Bisnis : 2,5 sesi

(6) Simulasi Rencana Bisnis : 2 sesi

(7) Diskusi Kelompok Simulasi : 1 sesi

(8) Diskusi Kelompok (Rencana Pemasaran : 2 sesi

(9) Presentasi Kelompok Bisnis : 1,5 sesi

Total : 20 sesi / @ 60 menit

3. Usulan Pedoman Kegiatan Supervisi

Supervisi difokuskan pada permasalahan-permasalahan usaha yang dihadapi oleh mitra binaan. Permasalahan-permasalahan tersebut dipecahkan dan didiskusikan serta dicatat pada Lembar Hasil Konsultasi dan Lembar Bukti Kunjungan Supervisi. Konsultasi yang dilakukan 3 kali kunjungan. Masing-masing kunjungan bobot pemecahan masalah berbeda-beda sebagai berikut:

1). Supervisi 1

Supervisi 1 (pertama), bobot permasalahan yang paling besar difokuskan pada administrasi keuangan

· Administrasi Keuangan sebesar 40%,

§ Pemasaran 15%,

§ Produksi 15%,

§ Sumber Daya Manusia 15%,

§ Motivasi Usaha / Kewirausahaan 15%

2). Supervisi 2

Supervisi ke 2 (kedua), bobot permasalahan yang difokuskan tetap pada administrasi keuangan dan pemasaran

§ Administrasi Keuangan sebesar 30%,

§ Pemasaran 30%,

§ Produksi 15%,

§ Sumber Daya Manusia 10%,

§ Motivasi Usaha / Kewirausahaan 15%

3). Supervisi 3

Supervisi ke 3 (ketiga), bobot permasalahan yang difokuskan tetap pada administrasi keuangan dan pemasaran

§ Administrasi Keuangan sebesar 30%,

§ Pemasaran 30%,

§ Produksi 15%,

§ Sumber Daya Manusia 10%,

§ Motivasi Usaha / Kewirausahaan 15%

4. Usulan Pedoman Kegiatan monitoring

Kegiatan Monitoring diusulkan untuk melanjutkan kegiatan supervise yang dijalankan oleh Tim Lembaga Pelatihan, dimana kegiatan monitoring dilakukan selama masa pinjaman mitra telah lunas pinjaman. Kegiatan Monitoring bukan hanya sekedar melihat dan menagih pembayaran angsuran, tetapi bagaimana memberikan arahan dan konsultasi didalam perkembangan kemajuan mitra yang menjadi binaannya. Usulan monitoring tetap menggunakan format supervisi, namun lebih dipertajam dengan melihat perkembangan melalui kinerja usaha mitra PT. Jasa Marga melalui ukuran keberhasilan.

Dimana ukuran keberhasilan pembinaan adalah kinerja usaha mitra binaan, yang dipantau dalam jangka waktu 3 tahun dimulai dari, pelatihan, supervisi dan monitoring. Untuk dapat diukur kinerja mitra binaan maka dibuat indikator penilaian sebagai berikut:

1). Penguasaan Usaha

Penguasaan usaha, indikator penilaiannya yang telah ditetapkan pada saat supervisi dan monitoring sebagai berikut:

· Mjn Keuangan 8 indikator

· Mjn pemasaran 8 indikator

· Mjn Produksi 8 indikator

· Sumberdaya manusia 8 Indikator

· Motivasi dan rencana usaha 8 indikator

Dari kriteria penilaian diatas mempunyai rentang nilai sebagai berikut:

· 8 s/d 7 Sangat Baik (A)

· 6 s/d 5 Baik (B)

· 4 s/d 3 Cukup (C)

· 2 s/d 0 Kurang (K)

2). Kontinuitas Usaha

(10 – 12 triwulan), konstan dengan usaha yang sama, Sangat baik (A)

(9 – 6 triwulan), konstan dengan usaha yang sama, dinilai Baik (B)

(5 – 3 triwulan), konstan dengan usaha yang sama dinilai Cukup (C)

(2 – 1 triwulan), konstan dengan usaha yang sama dinilai Kurang (K)

3). Tingkat Laba Dibandingkan dengan Jumlah Cicilan Pinjaman

5 : 1 = Sangat Baik ( A )

3 : 1 = Baik ( B )

2 : 1 = Cukup ( C )

1 < 1 = Kurang ( K )

III. PENUTUP

Usulan Pedoman pendampingan ini merupakan draft yang perlu dilakukan penyesuaian dilapangan. Kegiatan-kegiatan pembinaan yang dilakukan, beberapa sudah mempunyai acuan yang ditetapkan PKBL pusat, namun pelaksanaan dilapangan mengalami kendala dan hambatan-hambatan sehingga acuan tersebut tidak dapat dilaksanakan.

Usulan pedoman pendampingan ini mengkaji pedoman-pedoman yang sudah ada serta dilakukan penyesuaian-penyusaian dan dilakukan uji coba di lapangan sehingga dapat digunakan sebagai pedoman untuk petugas lapangan didalam membina mitra UKM dalam penyaluran pinjaman, pelaksanaan pelatihan, pelaksanaan supervise dan monitoring.

 


Last Updated ( Thursday, 25 July 2013 12:35 )
 
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN J.CO DONUTS DI JAKARTA PDF Print E-mail
Friday, 19 July 2013 16:42

ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN

DALAM KEPUTUSAN PEMBELIAN J.CO DONUTS

DI JAKARTA BARAT

Oleh :

  1. Herlley Brigays (2009-11-029)
  2. Mudjiarto (Pembimbing)

Fakultas Ekonomi : Manajemen

@Universitas Esa Unggul.Jakarta.2013

ABSTRAKSI

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian J.co Donuts di Jakarta Barat. Dalam penelitian ini faktor – faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian ditinjau dari bauran pemasaran (7P).

Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang pernah melakukan pembelian Jco Donuts dengan jumlah populasi yang tidak diketahui. Jumlah sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan Quota Sampling yaitu sebesar 100 Responden sebagai sampel penelitian. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Purposive Sampling dengan kriteria usia minimal 17 tahun (dengan asumsi responden sudah dewasa dan dapat mandiri dalam memberikan jawaban). Sudah pernah membeli J.co Donuts dalam 1 Bulan Terakhir.

Penelitian ini dilakukan dengan metode pengumpulan data berupa Kuisioner dan wawancara. Sedangkan metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Uji Validitas dan Reliabilitas untuk mengetahui pertanyaan – pertanyaan yang reliabel, kemudian menggunakan Skala Likert untuk mendeskriptifkan bobot nilai tanggapan konsumen untuk setiap pertanyaan yang ada di kuisioner. Teknik analisis data yang digunakan adalah Analisis Faktor.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian J.co Donuts di Jakarta Barat. Faktor – faktor tersebut masuk ke dalam 8 indikator antara lain : Penetapan Harga, Banyaknya Variasi Menu, Porsi Makanan Standar, Jam buka J.co Donuts, Adanya potongan harga, seragam yang digunakan karyawan, Dekat dengan pusat keramaian dan Secara Keseluruhan Layanan yang diberikan cukup baik. Sedangkan faktor yang paling dominan adalah indikator banyaknya Variasi Menu. Hasil pengolahan data SPSS 17 dalam uji Reliabilitas bauran pemasaran Cronbach’s Alpha Sebesar 0,892 sebanyak 27 pertanyaan sedangkam Uji realibilitas keputusan pembelian Cronbach’s Alpha sebesar 0,823 sebanyak 3 Pertanyaan sedangkan nilai KMO dalam Uji analisis Faktor sebesar 0,689 ≥ 0,5 maka nilai KMO diatas analisis faktor layak digunakan.

PENDAHULUAN

Perusahaan yang menghasilkan barang dan jasa perlu menjaga kepuasan pelanggan untuk memaksimalkan laba dan menjaga keberlangsungan perusahaannya. Hal ini juga untuk memberikan kepuasan konsumen dalam produk yang dipasarkan. Persaingan dalam dunia usaha khususnya di bidang industri makanan semakin ketat, sehingga menuntut berbagai macam usaha untuk lebih kreatif dan inovasif agar dapat bertahan di persaingan.

Terlebih lagi di dalam globalisasi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat, perusahaan dituntut untuk bersaing secara cermat dan tanggap dalam melihat peluang, acaman, tantangan, hambatan, dan gangguan baik itu perusahaan dalam posisi pemimpin pasar, maupun pengikutnya, maka dari itu persiapan dari segala jenis bentuk, terutama dalam segi teknis kualitas produk, harus diperhatikan dengan seksama. Sehingga persaingan yang semakin ketat tersebut, setiap usaha perlu meningkatkan kekuatan yang ada dalam perusahaannya dengan cara memunculkan perbedaan atau keunikan yang dimiliki perusahaan dibandingkan dengan pesaing untuk dapat menarik minat konsumen. menarik konsumen melakukan pembelian tidak hanya dapat dilakukan dengan memberikan diskon, door prize atau kegiatan promo lainnya. Menarik konsumen untuk melalukan pembelian juga dapat di lakukan dengan cara memberikan senyuman dan keramahan yang menyenangkan bagi konsumen pada saat di dalam toko, karena konsumen yang merasa senang diharapkan akan melakukan pembelian untuk dapat menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan, maka perlu memberikan kepuasan kepada konsumen.

J.Co Donuts yang menempatkan produknya sebagai produk internasional yang memiliki nilai lebih, maka donuts ingin menawarkan rasa donat yang berbeda kepada konsumennya yang di mana belum pernah dirasakan sebelumnya. J.Co donuts hadir dengan konsep donat yang sederhana,namun berhasil untuk memikat konsumen dan membuka gerai hingga kemanca negara. Pertumbuhanpun kian meningkat dari tahun ketahun. J.Co Donuts pertama kali didirikan pada tanggal 26 juni 2005 oleh PT. Johny Andrean Gruop di Mall lippo karawaci, Tangerang. Dalam waktu 6 bulan pembukaan pertamanya, J.Co Donuts berhasil menambah jumlah gerainya sebanyak 22 gerai di indonesia. Sampai dengan tahun 2010, J.Co Donuts telah memiliki 62 gerai di Indonesia dan 8 gerai di Singapur dan malaysia.

Kesuksesan J.Co Donuts telah mendapat pengakuan yang terbukti dari beberapa penghargaan yang telah diterima antara lain, “Best Marketing award” sebagai brand yang memiliki produk paling berinovasi di tahun pertama, “Best Donuts 2006“ oleh Free Magazine, The Integrated Marketing Strategy Champion 2008” Oleh SWA dan Markplus & Co dan Cakram Award 2008 sebagai “Break Trough Cempaign Category food & beverage”. Sebagai usaha food & beverage pada donut dan kopi, J.Co Donuts memiliki beberapa pesaing di antaranya, Big Apple Donuts & Coffee, Dunkin Donuts, I-Crave Donuts dan krispy kreme doughnuts coffee.

Sejak pertama kali dibuka J.Co Donuts membuat para konsumennya rela mengantri berjam-jam untuk mendapatkannya, antrian J.Co Donuts bisa mencapai bermeter-meter. J.Co Donuts berhasil mencuri perhatian konsumen sejak pertama kali dibuka karena menampilkan sesuatu yang berbeda dimana menghasilkan konsep Open Kitchen di mana konsumen dapat melihat secara langsung proses pembuatan donuts tersebut.

Rumusan Masalah

1. Apakah faktor – faktor yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian J.Co Donuts?

2. Faktor apakah yang paling dominan dalam keputusan pembelian J.Co Donuts?

Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui Apakah terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian J.Co Donuts.

2. Untuk mengetahui faktor apakah yang paling dominan dalam keputusan pembelian J.Co Donuts.

Manfaat Penelitian

1. Bagi kalangan Akademis, semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan di jadikan sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya.

2. Bagi penulis adalah untuk memperoleh pengetahuan serta penerapan ilmu – ilmu yang di perolehnya selama perkuliahan terutama di bidang pemasaran.

3. Bagi perusahaan adalah melalui hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan agar perusahaan dapat terus meningkatkan penjualan.

4. Menjadi bahan masukan yang berguna untuk meningkatkan kualitas.

5. Mengetahui nilai jual yang dimiliki sehingga memberikan kepuasan yang lebih kepada konsumen dan dapat tetap bertahan di dunia industri.

6. Dapat mengetahui perilaku konsumen dalam menentukan keputusan pembelian.

Tinjauan Teori

1. Bauran Pemasaran

Beberapa ahli memberikan bermacam – macam definisi tentang bauran pemasaran (marketing mix). Ia mengatakan bahwa : “marketing mix is the set of marketing tools that the firm uses to pursue its marketing objective in the terget market“ yang artinya bauran pemasaran adalah sekumpulan alat pemasaran (marketing mix) yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mencapai tujun pemasaran dalam pasar sasaran.

menurut Santoso yang mendefinisikan tentang bauran pemasaran yang

mengatakan bahwa :“Pemasaran meliputi keseluruh sistem yang berhubungan dengan kegiatan–kegiatan usaha, yang bertujuan merencanakan,menentukan, menentukan harga, hingga mempromosikan hingga mendistribusikan barang– barang atau jasa yang akan memuaskan kebutuhan pembeli, baik yang aktual maupun yang potensial“.

Sedangkan Menurut Zeithaml and Bitner yang mendefinisikan tentang bauran pemasaran yang mengatakan bahwa: “marketing mix defined as the elements an organization controls the can be used to satisfy or communicate with customer. these elements appear as core decisions variables in any marketing text or marketing plan”.Yang artinya bahwa bauran pemasaran didefinisikan sebagai elemen organisasi yang dapat mengontrol dan digunakan untuk memuaskan atau berkomunikasi dengan pelanggan. elemen-elemen ini muncul sebagai variabel inti keputusan dalam setiap teks pemasaran atau rencana pemasaran.

Didalam hal ini berati bauran pemasaran jasa adalah elemen-elemen organisasi perusahaan yang dapat dikontrol oleh perusahaan dalam melakukan komunikasi dengan konsumen dan akan dipakai untuk memuaskan konsumen. berdasarkan definisi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa marketing mix merupakan unsur–unsur pemasaran yang saling berkaitan sehingga perusahaan dapat mencapai tujuan pemasaran dengan efektif, sekaligus memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Seperti yang dikemukakan oleh Zeithaml dan Bitner bauran pemasaran jasa terdiri dari 7P yaitu produk (Product), harga (price), tempat (place), promosi (promotion), orang (people), fasilitas fisik (physical evidence) dan proses (process).Untuk menjangkau pasara sasaran yang telah ditetapkan, maka setiap perusahaan perlu mengelolah kegiatan pemasarannya dengan baik.Perusahaan harus dapat menyusun serta menggunakan controllable marketing variables, untuk mengantasipasi perubahan dari uncontrollable marketing variables, serta untuk mempengaruhi permintaan perusahaan.

2. Perilaku konsumen

Perilaku konsumen menurut James F. Engel et.al. yang berpendapat bahwa perilaku konsumsen mendefinisikan tentang :“Consumer behevior is defined as the acts of individuals directly in volved in obtaining and using economic good services including the decision proses that precede and determine these acts“.yang artinya bahwa perilaku konsumen yang didefinisikan sebagai tindakan–tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomi termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan– tindakan tersebut.

Menurut David L. Loundon dan Albert J. Della Bitta mengemukaan bahwa perilaku konsumen :“consumer behavior may be defined as decision procrss and physical activity individuals engage in when evaluating acquairing, using or disposing of good and services“.Yang artinya bahwa perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan dan aktivitas individual secara fisik yang dilibatkan dalam proses mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau dapat mempergunakan barang – barang dan jasa.

Menurut Gerald Zaleman dan Melanie Wallendorf yang menjelaskan bahwa perilaku konsumen: “Consumer behavior are acts,proces and social relationships exhibited by individuals, group and organizations in the obtainment,use of, and consequent experience with products, services and other resources“. Yang artinya bahwa perilaku konsumen adalah tindakan– tindakan, proses, dan hubungan sosial yang dilakukan individu, kelompok dan organisasi dalam mendapatkan, menggunakan suatu produk atau lainnya sebagai suatu akibat dari pengalamannya dengan produk, pelayanan dan sumber – sumber lainnya.

Menurut Johan C. Mowen Michael minor mendefinisikan perilaku konsumen sebagai suatu studi tentang unit pembelian dan proses penukaran yang melibatkan perolehan, konsumen dan pembangunan barang, jasa, pengalaman serta ide–ide. Menurut Engel et al mendefinisikan perilaku konsumen sebagai tindakan langsung untuk mendapatkan, mengkonsumsi dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini. Sedangkan Kotler dan amstrong mengemukakan bahwa perilaku konsumen adalah “perilaku pembeli konsumen akhir, baik individual maupun rumah tangga yang membeli produk untuk konsumen personal. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat di simpulkan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan – tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang – barang atau jasa ekonomis yang dapat dipengaruhi lingkungan .

 

 

1. Variabel – Variabel dalam mempelajari Perilaku Konsumen

Ada tiga variabel dalam mempelajari perilaku konsumen yaitu, variabel stimulus, variabel respons dan variabel intervening. Hal ini sesuai dengan pendapatan David L. Louden dan Albert J. Della Bitta yang mengemukakan bahwa : “three classes of variables are involved understanding consumer

behavior in any of these specific situations :stimulus variabel, response variables and intervening variables

2. Proses pengambilan keputusan Pembelian

proses pengambilan keputusan pembelian terdiri dari lima tahap: pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, pengevaluasian alternatif, keputusan pembelian dan perilaku setelah pembelian, dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Pengenalan Kebutuhan

Proses pembelian bermula dari pengenal kebutuhan. Pembeli merasakan adanya perbedaan anatar aktual dan sejumlah keadaan yang diinginkan.

b. Pencari Informasi

Tahapan proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen bergerak untuk mencari informasi tambahan, konsumen mungkin sekedar meningkatkan perhatian atau mungkin pula mencari informasi secara aktif

c. Pengevaluasian Alternatif

Pengevaluasi alternatif yakni cara konsumen memproses informasi yang menghasilkan berbagai pilihan mereka. Sayangnya konsumen tidak melakukan beberapa proses evaluasi dan tahapan proses keputusan pembelian dimana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi berbagai merek alternatif di dalam serangkaian pilihan.

d. Keputusan Pembelian

Tahapan proses keputusan pembelian dimana konsumen secara aktual melakukan pembelian produk. Di tahap pengevaluasian, konsumen menyusun peringkat merek dan membantu kecenderungan (niat) pembelian. Secara umum keputusan pembelian konsumen akan membeli merek yang paling disukai, tetapi ada dua faktor yang muncul di antar kecenderungan pembelian dan keputusan pembelian. Faktor peertama adalah sikap orang lain dan sedangkan faktor kedua adalah faktor situasi yang tak terduga. Konsumen mungkin membentuk kecenderungan pembelian berdasarkan pada pendapatan yang diharapkan, harga, dan manfaat produk yang diharapkan. Namun, keadan tak terduga dapat mengubah kecenderungan pembelian.

e. Perilaku Setelah Pembelian

Tahapan proses keputusan pembelian konsumen melakukan tindakan lebih lanjut setelah pembelian berdasarkan pada kepuasan atau ketidakpuasan mereka. Pekerjaan pemasaran tidak berhenti pada saat produk dibeli. Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas dan akan masuk ke perilaku pembelian yang penting diperhatikan oleh pemasar

 

 

 

1. Kerangka Pikir Penelitian

Setiap konsumen memiliki kebutuhan dan keinginan yng berbeda. Hal ini lah yang di tanggapi oleh pemasar. Untuk mengetahui apakah produk, harga, tempat, promosi, orang, sarana fisik dan proses dapat mempengaruhi konsumen dalam melakukan keputusan pembelian J.co Donuts.

Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian J.Co Donuts.

Hasil analisis faktor dilakukan untuk menguji apakah produk, harga, tempat, promosi, orang, sarana fisik dan proses dapat mempengaruhi keputusan pembelian J.co Donuts. Oleh karena itu hasil analisis ini diharapkan dapat memberi gambaran keputusan pembelian. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk Perusahaan J.co Donuts tersebut.

Dengan demikian kerangka pikir penelitian dapat dijadikan kedalam sebuah pola pikir dari gambaran yang dilihat sebagai berikut :

 

 

 

Kerangka Pikir Penulis

1. Hipotesis

Hipotesis menurut tatabahasa berarti suatu pernyataan yang kedudukanya belum sekuat sesuatu proposi atau dalil. Hipotesa atau dugaan sementara yang perlu dikaji kebenarannya dalam penelitian ini adalah :

a. Diduga faktor Produk ( Product), Harga (Price), tempat (Place), promosi (promotion), orang (people/partisipant), Fasilitas Fisik (physical Evidence) dan Proses (Process). merupakan faktor yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian J.co Donuts.

b. Diduga faktor harga, Tempat, dan Fasilitas fisik adalah faktor yang paling dominan dalam keputusan pembelian J.co donuts.

METODELOGI PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian di lakukan kepada semua orang yang pernah melakukan pembelian J.Co Donuts di Jakarta Barat.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang pernah melakukan pembelian J.co Donuts dengan jumlah populasi yang tidak diketahui.Teknik pengambilan sampel yang diteliti adalah jumlah responden dari populasi dengan cara sebagai berikut :

jumlah item pertanyaan yang digunakan dalam kuesioner tersebut, dimana dengan mengasumsikan n x 5 observasi.”Dalam penelitian ini, jumlah item pertanyaan dalam kuisioner adalah 25 item pertanyaan yang akan digunakan untuk mengukur 7 buah variabel, sehingga jumlah kuesioner yang digunakan adalah sebanyak 100 responden.

1. Quota sampling

adalah metode pengambilan sampel ini dilakukan jika populasi tidak diketahui jumlahnya sehingga peneliti harus menentukan sendiri jumlah sampel yang inginkan. Karena jumlah populasi tidak diketahui, maka Quota yang ditetapkan antara masing – masing obyek penelitian adalah 100 responden.

2. Judgment sampling atau purposive sampling

metode pengambilan sampel ini dilakukan jika peneliti melakukan pengambilan sampel berdasarkan keputusan dari peneliti sendiri,yaitu pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu.Responden yang di pilih adalah orang yang diperkirakan dapat menjawab semua pertanyaan dengan kriteria sebagai berikut :

a. Usia minimal 17 tahun (dengan asumsi responden sudah dewasa dan dapat mandiri dalam memberikan jawaban).

b. Sudah pernah membeli J.co Donuts dalam 1 bulan terakhir.

Skala Likert

Karena penelitian ini adalah mengetahui faktor yang menentukan maka digunakan skala likert, skala ini memberikan peluang untuk mengekspresikan perasaan dalam bentuk persetujuan karena dimungkinkan hasil berupa desimal, bobotnya adalah sebagai berikut:

Tabel Pembobotan skala Likert

Definisi Operasional Variabel

1. Produk ( Product )

Adalah Produk J.co Donuts yang menawarkan kepada konsumen berupa donuts dapat memenuhi suatu keinginan atau kebutuhan seperti: Banyaknya variasi menu, porsi makanan standar, dan kemasan produk menarik.

2. Harga ( Price )

Adalah sejumlah uang barang untuk membeli suatu kebutuhan atau keinginan kepada J.co Donuts seperti: penetapan harga, harga terjangkau, harga sesuai dengan kualitas dan potongan harga.

3. Tempat ( Place )

Adalah lokasi J.co Donuts yang merupakan tempat untuk manawarkan atau menjual barang untuk konsumen untuk digunakan maupun di konsumsi, seperti: persediaan selalu ada, dekat dengan pusat keramaian, dan lokasi mudah diakses.

4. Promosi ( Promotion )

Adalah promosi yang dilakukan oleh J.co Donuts mengenai barang – barang yang ditawarkan atau dijual kepada konsumen untuk digunakan atau di konsumsi, seperti mempunyai website khusus dan media social seperti (twitter dan facebook)

5. Partisipant ( Karyawan )

Adalah orang – orang yang terlibat secara langsung dalam proses penjualan J.co Donuts, seperti karyawan yang sedia dan siap membantu konsumen, ramah dan kesediaan membantu konsumen, seragam yang digunakan karyawan, dan simpatik dalam pelayanan.

6. Proses pelayanan ( process )

Adalah kegiatan yang menunjukan bagaimana pelayanan diberikan kepada para konsumen selama melakukan pembelian barang atau jasa seperti : ketepatan pembayaran, jam buka J.co Donuts, lamanya waktu pelayanan, dan secara keseluruhan layanan yang diberikan cukup baik.

7. Fasilitas ( physical evidence )

Adalah keadaan lingkungan fisik J.co Donuts sebagai tempat beroperasinya jasa penjualan barang – barang atau jasa kepada konsumen untuk digunakan atau maupun di konsumsi, seperti : Desain Interior / eksterior dan outlet tata ruang yang menarik dan tersedia semua fasilitas ( seperti wifi, AC, Music dan Smoking area).

8. Keputusan Pembelian

Adalah keputusan pembelian merupakan tindakan konsumen dalam membeli suatu produk atau jasa yang ditawarkan untuk konsumen, seperti : keputusan yang tepat dalam membeli J.co Donuts, keputusan terhadap produk yang dibeli dan tindakan untuk membeli produk kembali.

Variabel-variabel dalam penelitian ini yaitu :

a. Produk (X1)

1) Banyakan Variasi Menu (X1.1)

2) Porsi Makanan Standa (X1.2)

3) Kemasan produk menarik (X1.3)

b. Harga (X2)

1) Terdapat penetapan harga (X2.1)

2) Harga yang ditawarkan terjangkau (X2.2)

3) Harga sesuai dengan kualitas (X2.3)

4) Adanya potongan harga (X2.4)

c. Tempat (X3)

1) Persediaan selalu ada (X3.1)

2) Dekat dengan pusat keramaian (X3.2)

3) Lokasi Mudah diakses (X3.3)

d. Promosi (X4)

1) Promosi penjualan mempunyai website khusus (X4.1)

2) Media promosi melalui media Social (X4.2)

e. Partisipant (X5)

1) karyawan yang sedia dan siap membantu konsumen (X5.1)

2) ramah dan kesediaan membantu konsumen (X5.2)

3) seragam yang digunakan karyawan (X5.3)

4) simpatik dalam pelayanan (X5.4)

f. Proses (X6)

1) ketepatan pembayaran (X6.1)

2) jam buka J.co Donuts (X6.2)

3) lamanya waktu pelayanan (X6.3)

4) secara keseluruhan layanan yang diberikan cukup baik (X6.4)

g. Fasilitas fisik (X7)

1) Desain Interior / eksterior dan outlet tata ruang yang menarik (X7.1)

2) tersedia semua fasilitas seperti wifi, AC, Music dan Smoking area (X7,2)

h. Keputusan pembelian (Y1)

1) keputusan yang tepat dalam membeli J.co Donuts (Y1.1)

2) keputusan terhadap produk yang dibeli (Y1.2)

3) tindakan untuk membeli produk kembali. (Y1.3)

Metode Analisis Data

1. Uji Validitas

Uji Validitas adalah pertanyaan sampai sejauh mana data yang ditampung pada suatu kuisioner dapat mengukur apa yang diukur, dengan rumus teknik korelasi produtc moment pearson :

 


Keterangan :

r = korelasi respon product moment

n = jumlah data sampel

X1 = Variable terikat kualitas pertanyaan

X2 = Variabel terikat kepuasan pelanggan

Y = Variabel terikat loyalitas pelanggan

2. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah suatu bentuk pengujian terhadap kualitas data primer, dengan tujuan untuk mengukur konsistensi seluruh pertanyaan dalam penelitian. Cronbach Alpha adalah metode uji relibilitas untuk skala kuesioner interval dan ordinal. Adapun rumus cronbach’s alpha adalah sebagai berikut :

Keterangan :

r 11 = Reliabilitas intrumen

k = banyak butiran pertanyaan

t2 = variasi total

b2 = jumlah variasi butir

3. Analisis Faktor

Adalah suatu alat uji banyak variabel dimana untuk mengamati dan menganalisis suatu fenomena yang dapat dibuat suatu pola. Dengan rumus :

 


Dimana :

Xisj = Nilai standar X Ke-i pada Sel Ke-j

Xij = Nilai X Ke – i pada sel ke-j

= Rata – rata variabel ke – i

Dengan persamaan :

Fj = bjIXsI+bj2Xx2+bjkXsk ...................................................

Keterangan :

Fj = Skor Faktor ke - j

bj = Koefisien sektor faktor ke-j

Xsk = variabel ke – k yang telah di standarisasi

a. KMO dan Barlett’s Test

Kesimpulan tentang layak – tidaknya analisis faktor dilakukan, baru sah secara statistik dengan menggunakan uji kaisaer meyer olkin (KMO)measure of adequency and berlett Test of speriecity. KMO uji nilainya berkisar antara 0,5 sampai 1,0 ini mempertanyakan kelayakan (appropriatness) analisis fakor. Sebagai berikut :

“Analisis faktor layak dilakukan dan sebaliknya bila KMO dibawah 0,5 analisis faktor tidak layak dilakukan.”

Tabel Nilai KMO

b. Nilai – Image Matriks.

Untuk menentukan variabelmana saja yang layak digunakan dalam analisis lanjutan. Pada tabel tersebut ada kode “a” yang artinya tanda untuk measure of sampling adequacy (MSA)

c. Total Variance Explaind.

Menunjukan nilai masing – masing variabel yang dianalisis setiap faktor mewakili variabel – variabel yang dianalisis. Kemampuan setiap variabel yang dianalisis ditunjukan oleh besarnya varians yang dijelaskan yang disebut dengan eigenvalue.

d. Rotated Component Matrix.

Menunjukan bahwa variabel yang dapat dikelompokan menjadi faktor – faktor.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Uji Validita

Analisis :

Dengan menggunakan tabel nilai kritis untuk korelasi r person - moment dengan n = 30, nilai α 0,05% dan interval kepercayaan 95% maka didapat r tabel = 0,361. Dari 25 indikator pertanyaan pada tabel 5.1 maka didapatkan 25 indikator pertanyaan tersebut valid.

  1. Uji Reliabilitas

Hasil untuk semua uji reliabilitas untuk semua indicator pertanyaan rumus Cronbach,s Alpha pada bauran pemasaran adalah 0,892 sedangkan untuk reliabilitas keputusan pembelian adalah 0,823. Hal ini menunjukan bahwa semua pertannyan- pertanyaan yang terdapat dikoesioner tersebut sangat reliabel.

  1. Uji Faktor

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembelian J.Co Donuts dan untuk mengetahui faktor apakah yang paling dominan dalam keputusan pembelian J.Co Donuts.

a. Nilai KMO

Analisis :

Bisa dilihat bahwa dengan munggunakan uji Kaisear Meyer Olkin (KMO) nilainya berkisar antara 0 sampai 1 ini mempertanyakan kelayakan analisis faktor. Apabila nilai tertinggi berkisar antara 0,5 sampai 1,0, analisis faktor layak dilakukan dan sebaliknya bila KMO dibawah 0,5 analisis faktor tidak layak dilakukan. Karna nilai KMO diatas adalah 0,689 dan > 0.05 maka nilai KMO diatas Bagus atau bisa dikatakan analisis faktor layak digunakan.

b. Nilai – Image Matrices / MSA

Analisis :

bisa dilihat nilai – image matrices atau pada tabel disebut dengan nilai Measure of Sampling Adequency (MSA) ditandai dengan huruf ‘a’. Dapat dilihat bahwa variabel yang layak dianalisis adalah nilai msa lebih dari 0,05. Bila dibawah 0.05 maka nilai MSA ditolak atau tidak layak. Dari data hasil analisis diatas bisa dilihat semua nilai MSA > 0.05 dan terdapat nilai MSA yang di tolak karena nilai MSA < 0.05 maka pertanyaan tersebut harus di keluarkan.

c. Total Variance Explaind.

Analisis :

bisa dilihat bahwa total variance explaind atau kemampuan setiap variabel yang dianalisis ditunjukan oleh besarnya varians. Apabila eigenvalue diatas 1.0 maka itulah yang akan terbentuk menjadi faktor-faktor, dilihat dari 22 indikator pertanyaan yang ada yang eigenvalue diatas 1.0 ada 8 dari jadi faktor yang terbentuk dari 22 indikator pertanyaan adalah 8 faktor.

d. Rotasi dengan rotasi varimax.

Faktor yang terbentuk:

  1. Dengan nilai eigenvalue 5.012 dinamakan faktor faktor Penetapan harga, kualitas, simpatik dan desain
  2. Dengan nilai eigenvalue 1.751 dinamakan faktor produk, tempat dan fasilitas fisik
  3. Dengan nilai eigenvalue 1.592 dinamakan faktor Produk dan harga
  4. Dengan nilai eigenvalue 1.371 dinamakan faktor Promosi, proses dan partisipant
  5. Dengan nilai eigenvalue 1.296 dinamakan faktor Harga dan Tempat
  6. Dengan nilai eigenvalue 1.097 dinamaka faktor Partisipant, Proses dan fasilitas.
  7. Dengan nilai eigenvalue 1.094 dinamakan faktor Dekat dengan pusat keramaian
  8. Dengan nilai eigenvalue 1.041 dinamakan Promosi, Partisipant dan Proses pelayanan

Faktor yang dominan dalam mempengaruhi Keputusan pembelian J.co Donuts dengan melihat nilai Eigenvalue : Faktor kedua dengan nilai eigenvalue 5.012 Maka faktor yang dominan yang mempengaruhi keputusan pembelian J.co Donuts adalah Faktor kedua dengan nilai eigenvalue 5.012, yaitu faktor Produk, tempat dan fasilitas fisik adalah faktor yang paling dominan.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan uraian pembahasan yang telah jelaskan pada bab sebelumnya maka penulis dapat menarik kesimpulan dan sasaran sebagai berikut :

  1. Berdasarkan hasil analisis faktor terbentuk 8 faktor yang menentukan keputusan pembelian J.co Donuts di Jakarta Barat antara lain : adanya penetapan harga, Kualitas, Simpatik dan desain, Produk, Tempat dan Fasilitas Fisik, Produk dan Harga, Promosi, Proses dan Partisipant, Harga dan Tempat, Dekat dengan pusat keramaian, Promosi, Partisipant dan Proses Pelayanan.
  2. Berdasarkan hasil yang ada 1 faktor yang sangat dominan mempengaruhi keputusan pembelian J.co Donuts di Jakarta Barat, diantaranya foaktor kedua yang beranggota 4 dimensi yaitu Produk, tempat dan fasilitas fisik.

DAFTAR PUSTAKA

Arinto, Rita Budiarto dan Nina Sutyaningsih, pengantar Analisis Multivariat Dengan SPSS 12, Salembak infotek, Jakarta, 2005.

A. A. Anwar Prabu Mungkunegara, Perilaku Konsumen, edisi revisi, PT. Refika Aditama, Bandung, 2005

Bilson Simamora, Analisis Multivariat Pemasaran, PT. Gramedia Pustaka utama, Jakarta, 2005.

Hurriyanti Ratih, M. SI, Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen, Alfabeta, Bandung, 2005

Hendri sukotjo dan Sumanto Radit A., Analisia Marketing Mix-7P (Product, Price, Promotion, Place, Partisipant, Process dan physical evidence) terhadap keputusan pembelian product Klinik Teta di Surabaya, Oktober 2010.

Husein Umar, Metode Riset Perilaku Konsumen Jasa, Ghalia Indonesia,

Jakarta, 2003.

__________, Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen, Cetak 4, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.

Naresh K Moholtra , Riset Pemasaran Pendekatan terapan, edisi keempat, jilid 1, Jakarta, PT. INDEKS, kelompok Gramedia, 2005.

Kotler Philip dan Lane Kevin Kotler, Manajemen Pemasaran, Edisi 12, Jilid 1, PT. Macanan Jaya Cemerlang, Jakarta, 2008.

Rina Anindita dan Hasyim, Prinsip – Prinsip dasar metode riset dalam pemasaran, UIEU Universitas, Jakarta, 2009.

Setiadi J Nugroho, Perilaku Konsumen, Prenada media, Jakarta, 2003.

Ronny Kountur, D.M.S.Ph. D, Menguasai Riset Pemasaran, PT. Mitra kerjaya, Jakarta, 2008.

Tjiptono Fandy, Strategi Pemasaran, edisi III Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2007.

Udin Rinaldi, Pengaruh Bauran Pemasaran 7P Terhadap Keputusan Berbelanja di Swalayan, Fakultas ekonomi universitas panca bhakti, DIKTI No.43, 2008.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Last Updated ( Thursday, 25 July 2013 14:04 )
 
MOTIVASI – BERPRESTASI PDF Print E-mail
Wednesday, 17 July 2013 12:35


MOTIVASI – BERPRESTASI

(Kenali potensi kemampuan dalam berprestasi & meniti karier)

Oleh : Mudjiarto

1. Pengertian Motivasi dan Prestasi ,

2. Penetapan tujuan

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi dlm meniti karier

A. PENGERTIAN MOTIVASI DAN PRESTASI

1. Motivasi berprestasi

kalau diartikan secara konsep menurut Gibson, Ivanceuvich & Donnelly (1985: P 95), motivasi adalah konsep yang menguraikan tentang kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri seseorang yang memulai dan mengarahkan perilaku. Digunakannya konsep ini adalah untuk menjelaskan, bahwa individu sesesorang dengan orang lain mempunyai perbedaan-perbedaan dalam intensitas perilaku, dimana perilaku yang lebih bersemangat adalah hasil dari tingkat motivasi yang lebih kuat.

Dicontohkan,

2 (dua) orang mahasiswa yang kita amati, rajin datang kekampus. Dan kita menduga bahwa kedua mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa teladan dalam urusan akademik, Indeks Prestasi Akademik (IPK) mereka pasti tinggi. Dugaan kita bahwa, kedua mahasiswa tersebut mempunyai motivasi yang sama, sehingga menghasilkan perilaku yang sama.

Namun dugaan itu ternyata tidak benar, seperti dijelaskan diatas bahwa individu-individu mempunyai keinginan dan kebutuhan yang berbeda dan ini yang membuat perilaku berbeda.

Contoh 2 mahasiswa tersebut, terlihat rajin sama-sama datang ke kampus, namun setelah kita amati dengan cermat ternyata ada perbedaan yang mendasar dari perilaku yang ditampilkannya.

Individu mahasiswa yang pertama, melalui pengamatan yang mendalam Ia seorang mahasiswa yang rajin kuliah dan mempunyai IPK tinggi. Ia mempunyai tujuan, mempunyai visi dan misi yang jelas serta target yang ditetapkan dalam menempuh pendidikan tinggi. Ia mempunyai motivasi yang kuat untuk berprestasi, dengan perilaku yang ditunjukkan sehari-hari didalam kampus dan lingkungan rumahnya, ini yang dikatakan motivasi berprestasi (dorongan positif untuk prestasi).

Sedangkan individu mahasiswa yang kedua, bertolak belakang perilakunya dibandingkan dengan mahasiswa pertama, setiap hari datang ke kampus namun apa yang dikerjakan 80% tidak berkaitan dengan akademik yang ditetapkan. Kuliah jarang masuk, 80% kuliah di kantin, kondisi seperti ini dapat dipastikan ia tidak mempunyai tujuan yang jelas, visi – misi tidak ada, apa lagi menetapkan target untuk dapat menyelesaikan kuliah dengan IPK yang tinggi. Mahasiswa tersebut digolongkan, tidak mempunyai motivasi yang kuat untuk berprestasi (dorongan negatif untuk prestasi).

Dari contoh diatas jelas, bahwa kita harus selalu hati-hati membuat kesimpulan tentang motivasi. Jika lebih banyak dapat informasi yang kita kumpulkan, maka kesimpulan kita akan lebih tepat karena kita mempunyai data dan keahlian dalam mengamati perubahan perilaku yang ditampilkan. Hal ini berguna bagi individu dalam menjaga prestasi yang sesuai dengan tujuan dan target yang telah ditetapkan.

Seorang mahasiswa harus paham betul akan hal itu, bahwa Ia berada dalam lingkungan yang dinamis dalam perubahan-perubahan, tuntutan prestasi sangat diperhatikan dalam lingkungan ini. Ia harus mempelajari perubahan lingkungan yang ada, harus mencari informasi yang berguna untuk mencapai tujuan dan target kuliah. Seorang mahasiswa harus bisa mengukur antara target yang ditetapkan dengan kemampuan yang ada. Kalau ia bisa menjaga keseimbangan tersebut, maka tujuan akan tercapai melalui target prestasi yang telah ditetapkan. Dengan demikian pemahaman motivasi berprestasi merupakan suatu keharusan bagi individu yang ingin berhasil, apakah dia pekerja, pengusaha, mahasiswa atau pegawai negeri sekalipun. Karena atas dasar pemahaman itu individu akan berhasil dalam mencapai tujuan dari target yang ditetapkan.

Dapat disimpulkan bahwa, permasalahan yang mendasar dalam pemahaman motivasi berprestasi adalah, bagaimana menetapkan tujuan dan target. Banyak organisasi, individu, pekerja, atau mahasiswa lemah dalam menetapkan tujuan dan target tersebut. Apalagi mahasiswa baru, dalam benaknya masih terbelenggu oleh kondisi dan situasi proses belajar mengajar di SMU (Sekolah Menengah Umum). Gunung es yang berada di benaknya perlu dicairkan, diperlukan pencerahan berupa kegiatan atau program yang tepat sasaran dari pihak perguruan tinggi. Kegiatan Orientasi Studi, perkuliahan semester pendek merupakan salah satu program yang dimaksudkan untuk itu.

2. Penetapan Tujuan

Mahasiwa baru pertama kali dai memandang perguruan tinggi, yang dilihat adalah kemegahan gedung dan prasarananya serta kegiatan-kegiatan ekstra-kurikuler. Prasarana akademik, buku-buku perpustakaan dilihatnya mungkin yang kesekian, dan suatu kenyataan hampir 80% mahasiswa baru tersebut melihat Laboraturium, perpustakaan, tenaga pengajar, majalah ilmiah serta penunjang akademik lainnya, menjadi perhatiannya setelah mereka berada di semester 2 keatas, padahal sarana akademik itu yang menjadi kebutuhan dasar dalam mencapai tujuan dan prestasi yang diinginkan.

Penetapan tujuan dan sasaran, perlu menjadi prioritas utama dan diinformasikan kepada orang tua, saudara serta kerabat, sebagai alat kontrol dalam menempuh jenjang pendidikan.

Salah satu keberhasilan dalam mencapai tujuan dan target yang dicapai, karena adanya kontrol yang dilakukan, terutama dari pihak keluarga. Disamping itu penetapan tujuan, sasaran dan target perlu dikonsultasikan dengan orang tua. Hal ini menyangkut masalah biaya, waktu, dan pengorbanan lainnya. Seorang mahasiswa harus bisa meyakinkan, apa yang dilakukan dan dikerjakan merupakan sasaran serta target yang ingin dicapai, dan apabila ini dilakukan sejak awal kuliah maka hambatan-hambatan yang kemungkinan muncul dapat diprediksi sebelumnya.

Dari pengamatan para pendidik dan pengajar, banyak individu mahasiswa tidak melakukan hal tersebut. Kuliah yang yang diikuti hanya sekedar kewajiban terhadap orang tua atau penyandang dana. Dan yang sangat memprihatinkan, kuliah yang diikuti hanya karena gengsi, teman, serta ikut-ikutan, dengan alasan dari pada nganggur !?. Tingkat keberhasilan dapat diperkirakan dari kondisi diatas, berapa yang putus kuliah ditengah jalan?, berapa lama kuliah ditempuh ?, dan berapa besar dana yang dibuang percuma dari kondisi itu ?. Data statistik Universitas Indonusa Esa Unggul menunjukkan, tingkat putus kuliah mahasiswa baru (baru lulus SMU) mencapai 30%, setelah mereka mengikuti rata-rata setengah jalan dari jenjang pendidikan yang diprogramkan. Dan kebanyakan dari 30% tersebut, mereka tidak mempersiapkan target , sasaran dan tujuan dengan jelas (Seperti contoh diatas). Inilah pentingnya mahasiswa dalam menetapkan tujuan dan sasaran, berikut targetnya dengan jelas.

Mahasiswa dalam menetapan tujuan dan sasaran harus didahului oleh penetapan misi kegiatan, yang digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1:

 

 

 

Sumber :

Gambar 1

 

 

 

 

 

menunjukkan, individu mahasiswa diarahkan untuk lulus S1 tepat waktu, secara teoritik ini merupakan misi individu dari mahasiswa yang bersangkutan. Tanggung jawab Perguruan Tinggi menyediakan sarana prasarana dalam proses belajar mengajar, baik perangkat lunak maupun perangkat kerasnya.

Tujuan umum yang ditetapkan berupa kelulusan, kelulusan bukan hanya sekedar lulus tapi lulus dengan IPK yang tinggi dan dapat dipertanggung jawabkan secara akademik. Sedangkan tujuan strategiknya, selain lulus dengan IPK tinggi juga dibutuhkan keterampilan penunjang yang tinggi.

Untuk mengarah kesana diperlukan persiapan dan dikonsultasikan dengan orang tua atau penyandang dana, karena menyangkut masalah biaya.

Tujuan khusus yang ditetapkan, merupakan kebijaksanaan program serta rencana yang dibuat, sasarannya adalah apa yang dinamakan Prestasi yang dicapai berupa:

1. Tingkat keahlian tinggi ditempuh dengan pembelajaran formal maupun non formal (kursus-kursus)

2. Terciptanya net working (relasi) yang baik.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi.

Pengertian prestasi secara umum adalah hasil yang dicapai oleh individu, kelompok atau organisasi pada priode tertentu dan didasarkan pada ukuran yang ditetapkan. Mahasiswa lulus dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) yang tinggi atau rendah merupakan salah satu ukuran dari prestasi. Ukuran dari prestasi ini, berupa tinggi rendahnya nilai mata kuliah yang ditempuh dari setiap semester.

Hasil yang dicapai berupa IPK, dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Faktor Kemampuan
  2. Faktor Motivasi dan
  3. Faktor Eksternal

1. Faktor Kemampuan.

Kemampuan seorang mahasiswa dalam menyerap pelajaran dipengaruhi oleh:

· Kehadiran di ruang belajar

· Literatur yang dibaca

· Kelompok belajar

· Target yang ditetapkan

2. Faktor motivasi

Motivasi adalah suatu dorongan (drive), kekuatan dorongan ini mempengaruhi perilaku seseorang atau individu dalam melakukan sesuatu yang diinginkan. Sedangkan Kekuatan dorongan yang ada dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu Internal dan External.

Seorang mahasiswa untuk hadir di ruang kuliah, membaca literatur yang dianjurkan dosen, membentuk kelompok belajar dan menetapkan target karena dipengaruhi oleh:

· Rasa malu sama teman dan keluarga kalau mendapat ip yg rendah

· Rasa kasih sayang sama ortu yg membiayai

· Tanggung jawab pribadi

· Mempunyai rasa harga diri yang tinggi kalau mendapat IP yang tinggi dan sebaliknya

Kalau kondisi itu terjadi pada diri seorang mahasiswa, maka Ia dipengaruhi oleh motivasi Internal tinggi. Bagaimana Ia mempunyai rasa malu sama teman kuliah serta keluarga kalau ia mendapatkan IPK yang rendah, bagaimana Ia mempunyai rasa malu dengan orang tua atau orang yang membiayai kuliah kalau Ia mempunyai prestasi yang rendah dalam kuliah. Dan kalau hal ini tercipta dalam benaknya serta mempunyai persepsi bahwa pestasi dalam kuliah adalah merupakan tanggung jawab pribadi sebagai mahasiswa, maka dapat dipastikan tingkat menuju sukses dalam menempuh kuliah dengan tepat waktu dan memperoleh IPK yang tinggi akan diperolehnya. Sedang motivasi eksternal, adalah dukungan dari faktor-faktor diluar individu mahasiswa

 

Last Updated ( Wednesday, 17 July 2013 12:52 )
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 


Page 1 of 2
free pokerfree poker